Lelahnya Jadi Kakak…

Sibling

Dulu sewaktu saya kecil, banyak teman yang berkata seperti ini ke saya, “Enak ya kamu jadi anak bungsu…” Setiap kali teman saya berkata seperti itu, setiap kali itu juga saya bingung dan bertanya dalam hati, “Memang kenapa kalau jadi anak sulung? Memangnya gak enak ya jadi kakak?”

Ada beberapa kebiasaan bahkan sudah bisa dikatakan menjadi budaya di lingkungan kita bahwa kakak “harus” mengalah, “harus” menjadi panutan untuk adiknya dan sekaligus “selalu” disalahkan. Hmmm…aneh bukan? Apa dasarnya? Lalu di mana letak keadilan?

Coba simak kalimat-kalimat ini yang rasanya tidak asing di telinga kita: “Sudahlah, biarkan adikmu main dulu, kasihan, dia kan masih kecil sedangkan kamu sudah besar.” Atau, “Kamu kan sekarang sudah jadi kakak, kakak harus memberi contoh yang baik ke adiknya.” Atau, “Ayo, apa yang kamu lakukan sampai adikmu nangis seperti itu?”

Seandainya kakak bisa mengungkapkan perasaannya, mungkin inilah yang akan dikatakannya, “Mama, aku lelah jadi kakak. Aku harus selalu mengalah pada adik.” Atau, “Papa, aku lelah jadi kakak karena aku harus selalu bersikap baik dan sempurna.” Atau, “Mama, aku lelah jadi kakak, mama selalu menyalahkan aku tanpa mau melihat dulu duduk perkaranya.”

Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Jangan heran dan bertanya-tanya jika suatu saat kakak membenci adik, tidak memiliki rasa percaya diri dan menjadi pribadi pemberontak. Sedangkan adik, dia akan menjadi raja dan ratu kecil yang egois. Ini semua buah dari sikap dan tindakan kita.

Orangtua, bersikap dan bertindaklah adil juga logis. Prinsip benar dan salah ataupun prinsip melayani tidak mengenal usia. Bukan terutama kakak yang harus menjadi panutan, melainkan orangtua. Orangtualah yang harus menjadi panutan bagi anak-anaknya. Jangan meminta kakak menjadi dewa dewi bagi adik-adiknya. Kasihan, mereka lelah…